Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Cerita Ngentot Anus dan Vagina Novi Bersuami
Aopok.com - Hari libur aku bingung mau kemana. Akhirnya kuputuskan mengikuti saja kemana kaki ini melangkah. Akhirnya menjelang siang aku terdampar di Pasar Minggu. Namanya juga tanpa tujuan, hanya mengikuti kemana kaki melangkah, aku juga tidak tahu mengapa aku sampai ke sini.
Tiba-tiba saja perutku berteriak minta diisi. Kuputuskan untuk ke rumah makan terdekat. Kulihat ada Es Teler 77. Aku masuk, pesan makan dan cari tempat duduk. Setelah celingukan ke sana kemari ternyata hanya tinggal satu tempat duduk saja yang kosong.
Akupun menuju ke sana. Kulihat di depanku ada seorang Ibu, tiga puluh lima tahunan kukira, sedang asyik menikmati makanannya.
“Permisi Bu, boleh saya duduk di sini?” tanyaku. Basa-basi yang tidak perlu sebenarnya. Toh aku makan di sini juga bayar. Tapi memang basa-basi kadang perlu dan juga menguntungkan.
“Silakan. Silakan saja, tempat itu kosong kok,” katanya ramah.
“Mari Bu, saya makan,” kataku lagi.
Ibu tadi tidak menjawab, hanya dengan isyarat mempersilakan aku untuk makan.
Aku makan dengan cepat dan segera semangkuk bakso telah habis tidak bersisa. Mangkuknya pun mungkin sudah tidak perlu dicuci lagi karena benar-benar tidak ada sisa sedikitpun. Ibu di depanku tadi memperhatikanku makan. Mungkin dia heran, ini orang kelaparan dari negeri mana tersesat sampai Pasar Minggu. Es kelapa yang menemani bakso pun mulai kuminum.
Kulihat wanita itu mengeluarkan sebungkus rokok putih dan mengeluarkan sebatang.
“Merokok?” katanya menawariku.
“Terima kasih, saya tidak merokok,” kataku.
Aku memang bukan perokok, paling kalau lagi kepingin sekali mau merokok minta saja sama teman. Aku sedapat mungkin tidak usah membeli rokok. Bukan masalah uangnya. Aku takut sekali aku membeli rokok, maka berikutnya aku jadi terbiasa membeli rokok, kecanduan dan tidak bisa meninggalkan rokok. Kalau minta teman paling hanya sebatang saja, lebih dari itu malu dong.
Nikmat sekali kelihatannya wanita itu merokoknya. Dari caranya menghisap asap rokok kelihatannya dia memang seorang perokok berat. Kuamati bentuk tubuh dan wajahnya sekilas mirip dengan artis Misye Arsita, hanya saja ia sedikit lebih tinggi dan gemuk. Oke juga.
“Dari mana dan mau ke mana Bu?” tanyaku iseng.
“Jalan-jalan aja. Sebentar mau ke Blok M,” jawabnya ramah. “Kalau anda ini mau ke mana?” ia balas bertanya.
“Sama. Cuma jalan-jalan. Hari libur pas lagi nggak punya acara,” jawabku.
Akhirnya dari sekedar basa-basi kamipun ngobrol lebih jauh. Namanya Novi, tinggal di Depok. Suaminya PNS, menjabat sebagai salah satu Kepala Seksi di sebuah kantor pelayanan pajak di Jakarta.
“Kalau boleh tahu ada acara apa ke Blok M?” tanyaku.
“Jam dua nanti ada acara demo tata rias wajah dari sebuah perusahaan kosmetik”.
“Ehmm, boleh saya temani ke Blok M. Saya juga lagi nggak ada kegiatan”.
“Boleh aja. Asal nggak ngeganggu acaramu”.
“Mau berangkat sekarang? Agak terlalu cepat, tapi lebih baik nunggu di sana sambil cuci mata di Blok M Plaza”.
“Boleh, ayo kita berangkat”.
Terkait
Kami menyetop taksi dan segera naik.
“Blok M, Bang,” kataku kepada sopir taksi.
“Baik Pak,” katanya sambil menghidupkan argo.
Di perjalanan aku sengaja duduk agak merapat ke Novi sambil mengobrol. Dengan gerakan yang halus kuposisikan sikuku mendekat ke dadanya. Ketika taksi direm dengan mendadak maka dadanya menekan tanganku. Ia diam saja. Tes pertama lolos. Dengan lebih berani kudorong sikuku sampai menyentuh dadanya dan kutekan pelan. Ia masih diam saja. Kupegang tangannya yang ada di pahanya, kubalik telapak tangannya dan kumainkan jarinya. Ia tersenyum. Sebuah permulaan yang baik, pikirku. Akhirnya di sepanjang perjalanan tanganku terus menyikut dadanya, jariku meremas jarinya dan mempermainkan telapak tangannya. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...